Menyingkap Tabir Kredit Macet: Pengakuan Penghasilan Bank dan Aturan Mainnya

Kredit macet, dua kata yang membuat bulu kuduk bankir mana pun berdiri. Bukan hanya soal uang yang tak kunjung kembali, tetapi juga soal bagaimana melaporkannya kepada Direktorat Jenderal Pajak. Dalam hal ini, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-184/PJ./2002 bagaikan suar penunjuk jalan bagi bank dan debitur yang tersandung kredit macet.

Kredit Macet? Apa Sih Itu?

Kredit macet, yang dalam keputusan ini disebut kredit non-performing, adalah pinjaman yang diberikan oleh bank kepada nasabah yang tidak lancar pembayarannya. Kredit ini dibagi menjadi tiga kategori:

  • Kurang lancar: Nasabah telat membayar angsuran selama 1-3 bulan.
  • Diragukan: Nasabah telat membayar angsuran lebih dari 3 bulan dan terdapat indikasi kesulitan keuangan.
  • Macet: Nasabah telat membayar angsuran lebih dari 6 bulan dan dianggap tidak mungkin lagi dilunasi.

Menghitung Penghasilan: Bunga Macet, Di Mana Duitnya?

Nah, aturan main yang ditetapkan KEP-184/PJ./2002 ini khusus membahas tentang bagaimana mengakui penghasilan bank dari bunga kredit non-performing. Singkatnya, kapankah bunga itu dianggap sebagai “uang masuk” bagi bank?

Ada dua situasi yang perlu diperhatikan:

  • Cash basis: Jika uang bunga macetnya sudah diterima bank, barulah bunga itu diakui sebagai penghasilan. Jadi, belum memegang uang, belum boleh mengklaim keuntungan.
  • Penundaan Pengakuan: Ini khusus jika bank mencatat bunga macet sebagai pengurang pokok pinjaman. Artinya, si nasabah belum membayar bunga, malah utangnya ditambah bunganya. Dalam situasi ini, pengakuan penghasilan ditunda sampai uang bunga itu benar-benar diterima bank, entah setelah nasabah melunasi pinjaman atau lewat jalur hukum.

Transparansi itu Penting: Daftar Debitur Macet Wajib Disampaikan!

Untuk memastikan semuanya transparan, bank wajib membuat daftar debitur macet yang memuat informasi lengkap seperti nama, alamat, NPWP, hingga jumlah utang dan bunga yang belum dibayar. Daftar ini harus diserahkan kepada Kantor Pelayanan Pajak sebagai lampiran Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan bank.

Dampak Akuntansi dan Pajak Kredit Macet

Pengakuan penghasilan bunga kredit macet memiliki dampak yang signifikan terhadap laporan keuangan bank. Pada saat bunga macet diakui, laba bersih bank akan meningkat. Namun, dampak ini akan hilang jika bunga macet tersebut tidak benar-benar diterima bank.

Di sisi lain, pengakuan penghasilan bunga kredit macet juga memiliki dampak terhadap pajak. Bank akan dikenakan pajak atas penghasilan bunga macet tersebut, meskipun bunga itu belum benar-benar diterima.

Kesimpulan

KEP-184/PJ./2002 adalah peraturan yang penting bagi bank dan debitur yang tersandung kredit macet. Peraturan ini memberikan panduan jelas tentang bagaimana menghitung dan melaporkan penghasilan bunga kredit macet. Dengan aturan yang transparan, jalan keluar dari kredit macet pun bisa semakin terbuka.

KEP 184/PJ./2022
Lampiran KEP 184/PJ./2022

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Aplikasi Penghitungan Kompak PPh Pasal 21 - TER
Strategi Jitu Menyusun SPT PPh Orang Pribadi untuk Menghindari Pemeriksaan Pajak