PMK 169/PMK.010/2015: Batas Rasio Utang terhadap Ekuitas untuk Wajib Pajak Badan, Upaya Cegah Penghindaran Pajak

PMK 169/PMK.010/2015, yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia pada tanggal 22 September 2015, mengatur tentang batasan rasio utang terhadap ekuitas untuk Wajib Pajak badan di Indonesia. Ketentuan ini bertujuan untuk mencegah praktik penghindaran pajak melalui penggunaan utang yang berlebihan, sehingga dapat meningkatkan penerimaan pajak.

“Penghindaran pajak adalah upaya untuk mengurangi atau menghindari kewajiban pajak yang seharusnya dibayarkan. Penggunaan utang yang berlebihan dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan penghindaran pajak, karena dapat mengurangi laba kena pajak. Hal ini terjadi karena beban bunga utang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung laba kena pajak.”

PMK ini berlaku bagi Wajib Pajak badan yang modalnya terbagi atas saham-saham.

Utang yang dimaksud adalah saldo rata-rata utang pada satu tahun pajak atau bagian tahun pajak, yang meliputi :

  • Saldo utang jangka panjang, seperti pinjaman bank, obligasi, dan pinjaman dari pihak lain yang tidak terikat hubungan istimewa.
  • Saldo utang jangka pendek, seperti utang dagang, utang pajak, dan utang gaji.
  • Saldo utang dagang yang dibebani bunga, seperti utang dagang kepada supplier.

Modal yang dimaksud adalah saldo rata-rata modal pada satu tahun pajak atau bagian tahun pajak, yang meliputi :

  • Ekuitas sebagaimana dimaksud dalam standar akuntansi keuangan yang berlaku, seperti modal saham, laba ditahan, dan cadangan.
  • Pinjaman tanpa bunga dari pihak yang memiliki hubungan istimewa, seperti pinjaman dari pemegang saham pengendali.

Batas rasio utang terhadap ekuitas ditetapkan paling tinggi sebesar 4:1. Artinya, utang tidak boleh melebihi empat kali modal.

Ketentuan dalam PMK ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2016. Wajib Pajak badan yang memiliki rasio utang terhadap ekuitas lebih tinggi dari 4:1 pada tahun pajak 2015 dan tahun-tahun sebelumnya tidak perlu melakukan penyesuaian terhadap utang dan modalnya untuk keperluan penghitungan Pajak Penghasilan.

“Saldo rata-rata utang adalah jumlah utang yang dihitung dengan cara membagi total utang dengan jumlah bulan dalam satu tahun pajak atau bagian tahun pajak. Saldo rata-rata modal adalah jumlah modal yang dihitung dengan cara membagi total modal dengan jumlah bulan dalam satu tahun pajak atau bagian tahun pajak.

“Rasio utang terhadap ekuitas adalah perbandingan antara utang dan modal. Rasio utang terhadap ekuitas yang lebih tinggi dari 4:1 menunjukkan bahwa utang lebih besar daripada modal.”

Semoga bermanfaat
Selamat beraktivitas dan Terima Kasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Aplikasi Penghitungan Kompak PPh Pasal 21 - TER
Strategi Jitu Menyusun SPT PPh Orang Pribadi untuk Menghindari Pemeriksaan Pajak